Tersentuh.

Ya. Saya tersentuh.

Di sore itu saya diberi kesempatan oleh Allah untuk mengajar di sebuah TPA yang letaknya 15 menit perjalanan dari kos. Jumlah mereka banyak, dan juga antusias.

Kegiatan sore itu dibuka dengan berdoa bersama, menyanyikan mars TPA, dan lagu islami anak-anak -yang mengingatkanku pada masa kecilku-. Tak lama kemudian datanglah beberapa orang dari fakultas Psikologi UGM, juga beberapa santri dari Rumah Kepemimpinan yang langganan mengajar di sana.

Kegiatan mengajar TPA berjalan seperti biasanya, namun tidak dengan jumlah pengajar. Pada saat itu jumlah pengajar sedikit, namun santrinya banyak. Saya mengajarkan iqro’ ke salah satu santri, sekaligus secara bergantian mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari santri lainnya. Ternyata santri tersebut tidak tau apa itu ‘tasydid’. Hal ini menarik perhatian saya karena ia telah menamatkan iqro’ (karna saat itu telah membaca Al-Quran). Kira-kira sekitar 30 menit mereka belajar, lalu sisa waktu dihabiskan untuk mendengarkan cerita sambil menunggu buka puasa.

Sebenarnya jika dilihat sekilas tidak ada yang salah dengan paparan di atas. Namun jika dicermati lebih jauh, terdapat sebuah hal yang seharusnya diperhatikan oleh kita, para ‘mahasiswa’ yang katanya mengabdi untuk masyarakat, yaitu jumlah pengajar.

Mungkin karna kurangnya jumlah pengajar, setiap siswa tidak bisa belajar intens sehingga ada bagian yang terlewatkan (tasydid, contohnya). Selama 30 menit pembelajaran, tidak semua santri mendapatkan guru (pengajar laki-laki hanya 4 orang, sedangkan santrinya mungkin sekitar duapuluhan).

Setelah kegiatan TPA berakhir, saya dan beberapa orang lainnya menyempatkan diri berbincang-bincang dengan Ibu Lili, salah satu pengajar di TPA tersebut. Beliau sangat berterima kasih kepada mahasiswa dari Fakultas Psikologi yang sedang mengadakan program disana. Beliau juga menceritakan antusiasme yang sangat besar dari para santri tersebut, salah satunya adalah ketika mereka mendatangi rumah ibu Lili yang pada saat itu sedang sakit. Mereka dengan semangatnya mengatakan “ibu, ngaji bu”

Ibu Lili juga bercerita tentang jumlah pengajar yang terkadang ‘tidak cukup’ jika dibandingkan dengan jumlah santri yang ada. Kadang rame, kadang sepi. Dari sinilah saya mengambil kesimpulan bahwa TPA ini sedang membutuhkan banyak pengajar, agar para santri bisa belajar dengan intens.

Saya tidak sedang menggembar gemborkan masalah jumlah pengajar seakan saya sudah berpuluh tahun mengabdi di tempat itu, saya juga baru pertama kali kesana. Namun kedatangan saya yang pertama itu menyentuh hati saya, untuk terus menginvestasikan pahala di sana, atau di tempat lain yang serupa.

Pesan yang ingin saya sampaikan, untuk kalian yang diberi nikmat kesempatan oleh Allah, untuk kalian yang mengaku ‘mahasiswa yang ingin mengabdi di masyarakat’, disinilah salah satu ladang untuk berkontribusi.

Note: tidak harus di TPA yang saya ceritakan ini, bisa juga di tempat lain yang lebih membutuhkan seorang pengajar. Tidak harus mengajar mengaji, bisa juga mengajarkan ilmu dasar akademik seperti kimia, fisika, biologi, dan ilmu lainnya. Tidak harus mengajarkan tentang ilmu tertulis, bisa juga mengajarkan ilmu kehidupan ataupun akhlak yang baik. Intinya, membantu mereka yang membutuhkan. Dan jangan lupa, niatkan untuk mendapatkan ridha Allah SWT, supaya berkah:)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s