Memaknai Puasa

Sebagian besar orang merasa berat menjalankan puasa –terutama puasa sunnah- dikarenakan harus menahan lapar, haus, emosi, serta harus menjaga diri dari berbagai maksiat. Sangat melelahkan, dan harus mengahapi berbagai cobaan.

Dengan berbagai alasan itulah, syaitan sangat bersemangat menggoda manusia. Puasa yang tidak ikhlas, terpaksa, tetap bermaksiat, bahkan meninggalkannya. Di bulan Ramadhan ini, masih ada segelintir umat muslim yang tidak berpuasa tanpa udzur yang syar’i.

Puasa yang wajib saja, masih banyak dari kita yang tidak sepenuh hati menjalankannya. Apalagi puasa sunnah. Mungkin karena tidak sahur, mungkin karna harus bekerja di siang harinya, mungkin karna banyak makanan lezat yang menggoda iman. Memang, puasa itu lelah. Puasa itu lapar. Puasa itu harus selalu menahan emosi. Tapi, puasa itu berkah.

Puasa yang melelahkan itu, dibalas oleh Allah dengan surga.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan“. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa.” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya” (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152).

Puasa yang melelahkan itu, ajang melatih diri menghadapi godaan iblis saat sakaratul maut.

Saat sakaratul maut, iblis dikerahkan menjadi tujuh rombongan. Rombongan kelima adalah iblis yang menampakkan dirinya sebagai kerabat terdekat yang dicintai orang tersebut, dengan membawa makanan dan minuman, sedangkan orang yang tengah menghadapi sakaratul maut tersebut sangat mengharapkan makanan dan minuman. Iblis berkata dengan penuh kasih,

“wahai kerabatku, inilah makanan dan bekal yang kami bawakan untukmu dan berjanjilah bahwa engkau akan menurut kami dan menyembah Tuhan yang kami sembah, supaya kita tidak terpisah, dan marilah bersama-sama masuk ke dalam surga”

Maka jika orang tersebut mengikuti tawaran itu, di saat yang sama itupun ia mati, mati dalam keadaan kafir. Na’udzubillahimindzalik.

Dan puasa yang melelahkan itu, mengokohkan iman kita. Utamanya saat menghadapi 3 tahun paceklik menjelang dan saat kedatangan Dajjal –semoga kita tidak melaluinya-

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya tiga tahun sebelum munculnya Dajjal adalah tahun-tahun paceklik yang luar biasa, kelaparan yang dahsyat menimpa manusia. Allah memerintahkan langit pada tahun pertama untuk menahan sepertiga hujannya, dan DIa memerintahkan bumi untuk menahan sepertiga tanamannya. Kemudian Allah memerintahkan kepada langit pada tahun kedua, lantas langit pun menahan dua pertiga hujannya, dan Allah menyuruh bumi hingga ia menahan dua pertiga tanamannya. Selanjutnya Allah menitahkan kepada langit pada tahun ketiga hingga langit menahan seluruh hujannya sehingga tidak turun hujan walau hanya setetes sekalipun. Allah juga memerintahkan bumi untuk menahan tanamannya secara total sehingga bumi tidak menumbuhkan tanaman hijau sama sekali. Tidak tersisa binatang yang berkuku kecuali mati sebagaimana yang dikehendaki Allah” (H.R Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Hakim). Hadits ini Shahih.

Pada hadits yang lain dengan periwayatan yang sama, dijelaskan bahwa yang menjadikan manusia bertahan hidup pada zaman itu adalah tahlil, takbir, tasbih, tahmid. Semua ucapan itu menggantikan fungsi makanan bagi mereka.

Ditambah dengan sabda lain tentang Dajjal,
Dia (dajjal) mendatangi suatu kaum lalu mengajak mereka, maka mereka pun beriman kepadanya dan menerima ajakannya. Lantas dia menyuruh langit lalu langit pun menurunkan hujan, dia menyuruh bumi lalu bumi menumbuhkan tanaman, memerintahkan hewan ternak lalu hewan-hewan itupun pulang pada waktu sore kepada mereka dalam keadaan paling panjang punuknya (penuh berisi lemak), paling penuh susunya di dalam ambingnya, paling penuh perutnya serta banyak makannya.

Selanjutnya Dajjal mendatangi suatu kaum lalu mengajak mereka tapi mereka menolak ajakan dan perkataannya, lantas Dajjal berpaling dari mereka. Maka merekapun menjadi orang yang miskin papa karena sangat kekurangan, tidak mempunyai harta sedikitpun.” (H.R. Muslim)

Dengan tiga keistimewaan itu, masihkah kita enggan berpuasa? Masihkah kita setengah hati? Jangan sampai sudah capek-capek puasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa.

Untuk orang-orang yang mungkin saja masih meninggalkan puasa wajib, Rasulullah Bersabda:
“Ketika itu aku mendapati orang-orang digantung dengan kaki diatas, rahang-rahang mereka robek dan mengalir darah darinya. Aku bertanya, “siapa mereka?”, keduanya menjawab, “mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum halal puasa mereka.” [HR. An-Nasa’i, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullahu di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib]

*note: Jika informasi ini dirasa bermanfaat, silahkan disebarkan, agar menjadi rantai pahala dan amal jariah bagi kita semua:). Semoga Allah memberi keberkahan kepada kita semua di bulan suci yang mulia ini. Aamiin.

Referensi:
Al-Adnani, Abu Fatiah. 2015. Petaka Akhir Zaman, Detik-detik Menuju Kehancuran Alam Semesta. Surakarta: Granada Mediatama.

https://muslim.or.id/17579-kajian-ramadhan-13-pintu-surga-ar-rayyan-bagi-orang-yang-berpuasa.html (diakses pada 15 Juni 2017, 08:35 PM)

https://muslimafiyah.com/hukuman-dunia-dan-akhirat-bagi-yang-sengaja-tidak-puasa-ramadhan.html (diakses pada 15 Juni 2017, 09:26 PM)

Soebachman, Adiba A. 2015. Ingat Mati! Kisah-kisah Unik, Aneh tapi Nyata tentang Sakaratul Maut. Yogyakarta: Kauna Pustaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s